Oleh: nisanoorlela | November 2, 2009

Dua kisah

Dua kisah

Sebenarnya ku ingin menulis hanya karena untuk menggunakan waktu yang ada, menyalurkan hobi yang ada, dan inginnya bisa dibaca oleh banyak orang. Ku berusaha untuk menulis kata dengan jujur, sesuai fakta yang ada, ku pun menulis apa yang ada di sekeliling ku saja. Andai kata ada yang tak sesuai dengan fakta, itu hanya canda atau imajinasi semata. Menulis itu bagian dari hidupku yang paling berarti, ketika ku sedih ku menulis cerita pendek, ketika ku bahagia bahkan ku jatuh cinta buku atau laptoplah temen utamaku, semuanya ku rangkaikan dalam tulisan sederhana. Itu saja yang bisa ku buat untuk dunia ini.haha, lebay yah. Ya lebay…terkadang saking senengnya sama seseorang, bikin puisinya bisa lebay. Itulah nisa yang ingin selalu berusaha tuk menunjukkan apa adanya. Ada kalanya ku sedih, malas bahkan kecewa pada seseorang. Tetap menulis lah hal pertama yang ku lakukan untuk bisa menumpahkan segala kekecewaan dan sedih yang ku rasakan.

Dan tibalah saatnya, ku mengajak beberapa teman yang benar-benar hobi menulis(ini menurut pandangan kacamataku). Kami bertiga membuat stensilen sederhana (seperti yang sering dibagikan di mesjid-ketika pulang sholat jumat). Tahukah pembaca? Jujur membuat stensilen sederhana itu hanya ingin mempublish tulisan kami, supaya ada dan bisa banyak yang mau membaca karya kami. Tapi kami berusaha membuat sesuai tema. Supaya apa yang kami tulis, bukan gado-gado semata.

Bertepatan dengan Sumpah Pemuda, stensilen sederhana bernama notspace meluncur di hadapan beberapa teman-teman yang mendapatkannya secara gratis. Notspace di cetak secara terbatas yaitu hanya 50 eksemplar. Kami hanya sedikit menyangka, ternyata benar adanya bahwa notspace yang sangat sederhana itu menuai kontroversi yang cukup hebat di kawasan SMADA (sekolahku). Setelah satu hari terbit kami dipanggil oleh pihak petinggi sekolah, sampai-sampai 2 hari berturut-turut kami dipanggil oleh beliau yang sangat terhormat itu.

Disekolahpun , para tetua-tetua menjadi dua kubu. Ada yang pro dengan beliau yang terhormat tadi, dan ada juga yang pro dengan ku. (kenapa ku? Karena tulisanku yang “bermasalah”). Bahkan ada teman-teman yang bilang, “nis kami mendukung kamu, tenang ja”, “nis, kami mendukung siswa yang dicekal seperti kam!”. Wah, seperti pemilihan calon legislatif aja. Yang paling kasihan itu septi (temen terdekat di kelas), saat di kantin ku dipanggil guru, pas mau ke kelas di panggil guru, dan septi terpaksa setia menunggu aku dan sang guru untuk ngobrol sebentar.

Guru-guru yang memanggilku itu semuanya menyambut baik tulisan ku, karena mereka merasa aspirasi yang ada di dalam hati mereka sudah tersampaikan melewati tulisan ku. Guru-guru ku itu juga member ku semangat, agar k uterus menulis dan berkarya. Dan aku jangan takut, karena Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (Seno Gumira Ajidarma). Tapi ada pula yang tidak menyukai dengan tulisan ku, dengan memandang sinis bila bertatap muka dengan ku.

Yah itulah akibat dari dua persepsi antara Golongan Tua dan Golongan Muda. Aku menulis Young and Dangerous. Maknanya adalah muda dan berbahaya. Berasal dari Bahasa Inggris artinya muda (kata sifat).Yaitu anak muda yang memiliki pemikiran yang “berbahaya” (beda), dan bisa membawa perubahan yang beda bagi dirinya, dengan caranya sendiri. Contoh: ide menyampaikan pesan melalui mural.

Tapi golongan tua berpendapat makna tulisan ku adalah PEMUDA YANG BERBAHAYA. Yaitu berasal dari kata JONG (Bahasa Belanda) artinya orang dan berupa kata benda. Jadi anak muda yang berbahaya seperti terorisme, miras, premanisme, pergaulan bebas, narkoba, dan semua hal buruk yang sudah diceritakan oleg beliau.

Mengapa ada perbedaan antara Golongan Tua dan Golongan Muda???

Apakah karena manusia yang ada di bumi ini terlalu cerdas?karena terlalu banyak info yang diterima, sehingga memilah yang bahasa Belanda dan bahasa Inggris pun susah.

Sungguh ku sudah lelah dengan ini, hanya satu yang ingin ku lakukan : TERUS MENULIS

Iklan

Responses

  1. SIP SIP SIP!!!

    semangat terus nis, kalo bisa tulisan di notspacenya publish kesini dong, import aja!

    kan biar tambah banyak yg tau!

    Sukses buat notspacenya yaaa!

    • sip…makasih yah semangat yah
      iya deh insyaAllah ntar tulisan di notspace di publish juga
      (wah siap” ada kontroversi di dunia maya lg dong)hehe

      sukses juga yahh

  2. waah…..yang punya blog jago nulis..
    :salut:

    semangat!!

    • makasih… belum jago sih, masi tahap pemula,
      masi belajar biar jadi penulis sejati

  3. setelah bersusah payah mencari kesana-kemari ternyata nisa noorlela sudah mempunyai blog ampuh …

    walaupun notspace memantik kontroversi, tapi nisa mesti hati-hati. kadang-kadang kata dukungan hanya berujung di bibir saja, sementara yang ada dihati si penutur belum tentu itu sebenarnya

    atau dalam pengalaman saya, nisa malah dimanfaatkan oleh segelintir orang …
    yang namanya kekurangan, dari dulu tidak berkurang hanya berubah bentuk …
    dan yang dikritik pun semestinya jelas, kepada siapa ~ karena yang diwakilkan dalam golongan tua dan golongan muda itu absurd dan tidak jelas sebab massanya mengambang …

    mudah-mudahan kontroversi notspace yang nanti akan di-publish ke sini tidak menjadi “cerita yang berkepanjangan” seperti cicak dan buaya …

    mudah-mudahan Nisa tetap tabah dan menulis buletinnya menjadi semakin afdol serta mantap dan tetap mengedepankan kesantunan seperti yang menjadi ciri khas tulisan Nisa ..

    • terimakasih pak, atas kunjungan dan komentarnya ke blog nisa.

      iya benar pak, setiap apapun yang kita lakukan harus lebih hati-hati.
      Supaya tidak akan mengalami kontroversi. Apalagi keadaan seperti saya ini.

      makasih pak atas sarannya, semoga kata-kata bapak ini makin membuat saya terus semangat dalam menulis,
      dan tetap berhati-hati utk mengucapkan kata” dalam setiap tulisan yang saya buat.

      • saya sependapat dengan hal itu, sebagai saran penutup jika boleh Nisa menulis analisis kekurangan sekolah atau apa yang ada di pikiran nisa serta bagaimana jalan keluarnya …
        karena kritik tanpa solusi sama saja dengan mengiris nadi sendiri …
        OK ? 😀

        happy writing ya

      • ok pak…

        teriamakasih atas sarannya, pak. Semoga saran dari bapak, bisa membuat tulisan dari nisa menjadi lebih baik lagi.
        happy writing too

  4. aku gapernah nulis sesuatu tentang berita atau hal – hal berbau jurnalis nis
    makanya blog aku isinya banyakan omong kosong doang
    soalnya, jadi jurnalis dan ngungkapin apa yang ada dalam pikiran kita dengan makna sekuat mungkin dan fleksibel buat semua orang itu bukan hal yang mudah
    terus hati – hati nis 🙂

  5. Aku mau baca dong notspacenya

  6. ampun deh : maaf yah edisi nya terbatas bgt, sebenernya sih bisa di fotokopi lagi.
    jujur aja ku takut kontroversi yang ada ntar malah makin mencuat, takutnya makin rumit ntar urusannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: